Bagaimana kalau kita benar-benar menua sendirian?
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Semalam muncul sebuah postingan di salah satu media sosialku dengan pertanyaan, “Pernah gak sih kamu kepikiran gimana kalau nanti kita benar-benar menua sendirian?”
Belum pernah terpikir, tetapi tiba-tiba terbayang. Iya juga, ya? Gimana kalau plot twist-nya tuh Allah SWT lebih sayang kita, membuat kita sendirian di dunia, dan kita ketemu pasangannya di akhirat kelak (?)
Seringkali aku berpikir dan bertanya-tanya,
“Siapa ya jodohku? Lagi apa ya dia? Kapan ya kami bertemu? Gimana ya kami dipertemukan? Dia orang yang aku kenal dekat atau sekadar pernah bertemu? Atau bahkan, kita belum pernah bertemu? Sekarang dia tinggal di mana? Rumahnya deket nggak? Pekerjaannya apa ya? Gaya hidup kita sama atau bertolak belakang? Dia bisa nerima segala kekuranganku enggak ya? Dia akan sayang dan peduli sama keluargaku enggak ya?” daaan begitu banyak pertanyaan lainnya yang terlintas.
Sepertinya itu merupakan bentuk kekhawatiran yang sesekali terasa.
Sebenarnya, di usia yang menurut sebagian orang tidak muda lagi, aku masih merasa enjoy dengan hidupku saat ini, alhamdulillah. Tapi ya gak bisa dipungkiri lagi, sebagai seorang anak, aku ingin melihat orang tuaku bahagia dan tenang ketika aku menikah. “Dengan siapa?” Itulah poin utamanya.
Setelah melihat postingan semalam, jadi refleksi lagi,
“Apakah memang aku akan menua sendirian?”
Sebenarnya bukan hal yang terlalu menakutkan karena selama ini pun aku terus belajar untuk berdiri sendiri.
"Bukan hal yang menakutkan?" Entah kalimat tersebut dikatakan oleh aku yang sekarang atau justru upaya memanipulasi otak diriku di masa lalu. Terlalu takut memulai karena sangat takut akan berakhir. Mungkin, kira-kira seperti itu.
Bagiku, tidak apa lebih selektif, sebagai salah satu cara menyelamatkan masa depan kita. Sebelum kami dipertemukan, aku pun perlu memperbaiki diri dan belajar banyak hal, agar kami setara, karena ini bukan hanya tentang diri sendiri.
Tapi kalau pada akhirnya aku benar-benar akan menua sendirian, tidak apa-apa kalau memang sudah takdir-Nya. Pertanyaannya, “Gimana ya aku bisa hidup tenang dalam kesendirian?” Perlu refleksi lagi untuk menemukan jawabannya.
Selamat beraktivitas, semoga panjang umur dalam kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan.
Comments
Post a Comment
Masukan dan saran kami tunggu :)