Kenapa Harus Overthinking?
"Overthinking itu untuk didiskusikan, bukan sekadar curhat." - Satu Persen -
Akhir-akhir ini dengan tanpa sengaja kita sangat bersahabat dengan
istilah OVERTHINKING. Overthinking dalam bahasa Indonesia berarti 'berpikir
secara berlebihan'. Sebagaimana kita ketahui bahwa segala sesuatu yang sifatnya
berlebihan itu memang tidak baik, begitupun dengan hal ini.
Berdasarkan pengalamanku, overthinking ini kerap hadir kapanpun semaunya, tetapi biasanya dia lebih sering hadir di malam hari. Yappp, itulah alasan kita lebih mudah menangis di malam hari. 😁
Sebagian orang mungkin menganggap bahwa overthinking itu tandanya berarti kita kurang bersyukur. Namun, sebagian orang lagi menyangkal statement tersebut, katanya overthinking itu tandanya kita sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik lagi. Okayyyy!! Whatever the statement you make about overthinking, that is your responsibility.
It's the point!
"Usiaku sudah masuk kepala dua dan aku merupakan mahasiswa tingkat
akhir."
Status tersebutlah salah satunya alasanku selalu overthinking. Why?
As you know guys, idealisme warga +62 itu terlalu tinggi. Bagaimanapun juga
aku merupakan salah satu rakyat yang tinggal di sini, pressure dari
setiap orang pasti ada. Harapan yang IDEALIS dari setiap orang pasti banyak! But,
as always we forget that we are normal human beings.
Manusia hanya sebagai perencana, sementara kita tahu bahwa masih ada
Tuhan yang Maha Berkehendak.
Jujur saja, tahun lalu aku berkali-kali overthinking. Ada saja
yang tetiba aku pikirkan. Bagaimana tidak lelah mental ini? Terlebih, dulu intensitasku
menggunakan media sosial sangat tinggi dan itulah salah satu penyebabnya aku mudah overthinking. Ku akui, AKU TIDAK BIJAK DALAM MENGGUNAKAN
MEDIA SOSIAL. Always as usual, aku mudah sekali membandingkan diriku
dengan orang lain, mudah sekali stalk akun orang-orang yang akhirnya
membuat aku selalu merendahkan diri sendiri juga, mudah sekali aku judge
orang lain dengan bilang "Ih enak ya jadi dia." Rasanya ingin marah
sekali aku sama diriku yang dulu, hahahaha. but I'm very grateful to the old
me karena akhirnya aku sadar bahwa ini sangat tidak baik untukku, untuk
mentalku.
Ceritanya seperti ini,
Pada tanggal 15 Maret 2020, aku benar-benar merasa capek. Bukan bukan
bukan, bukan capek fisik. Mentalku
benar-benar sedang turun. Tetiba banyak aspek yang masuk dalam otakku dan mereka
langsung menyerang pikiranku secara bersamaan. Kaget dong pastinya!
Malam harinya aku menangis tapi saat itu akupun tidak tahu apa yang sedang
aku tangisi karena terlalu banyak isi pikiranku. Akhirnya tanpa pikir panjang, keesokan
harinya, aku benar-benar uninstall berbagai aplikasi media sosial dan aku
matikan hampir semua notifikasi di handphone. Aku bersihkan isi berkas-berkas
di handphone. And do you know guys? Alhamdulillah, tenang banget hidup.
Tapi sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Kenapa?
Mohon maaf di sini aku belum bisa menjelaskannya secara detail.
Sejujurnya ingiiiin sekali rasanya aku menceritakannya di sini, tetapi
sekali lagi mohoh maaf tidak bisa. Intinya, di tahun 2020 ini memang mentalku
naik turun.
“Kenapa enggak coba konseling online?” Aku sudah coba mendaftarnya di
pertengahan tahun, tetapi memang belum rezeki ;)
Hampir setiap malam sebelum tidur yang aku lakukan ialah mengobrol
dengan diri sendiri, ngobrol, ngobrol, terus ngobrol, dan akhirnya menangis. Always
as usual.
“Kenapa gak coba ngobrol sama teman?” Jujur, hatiku sebenarnya ingin
sekali, tetapi mulutku ini tidak bisa menceritakannya, sangat berat.
“Kenapa gak coba ngobrol sama keluarga?” Sulit. Aku tidak bisa seterbuka
itu.
Maka dari itu, inilah alasan aku menuangkannya sendiri melalui tulisan dan berbicara dengan diri sendiri. Aku pun sangat tidak banyak berharap tulisan ini akan dibaca oleh orang lain, aku hanya ingin membuat hatiku sedikit lebih tenang.
Dan aku sangat tahu bahwa permasalahanku di sini ialah karena overthinkingku tidak didiskusikan dengan baik. Oleh karena itu, hal ini tidak segera selesai.
Akhirnya, aku menulis ini tetiba nangis lagi. Gak ngerti, gak ngerti,
gak ngerti, kenapa? :”
***
Oh ya, aku ingin berpesan pada anakku nanti, “Nak, kesehatan mental kamu merupakan hal yang paling utama. Semoga kamu selalu bahagia ya. <3”

Comments
Post a Comment
Masukan dan saran kami tunggu :)