The First Book With Allah SWT's Permission

 

2019 menyimpan kenangan.

"Bagi Allah, tidak ada yang mustahil di dunia ini."


    Sebagaimana kita ketahui, manusia hanyalah makhluk perencana, sementara Allah-lah yang Maha Berkehendak. Beruntungnya, nasib baik telah menghamipirku. Alhamdulillah Allah beri aku kepercayaan di tahun 2019 untuk menghasilkan beberapa karya. Ya, walaupun hanya empat buku, tetapi aku sangat bersyukur karena keempat buku itulah karya pertamaku. <3 

    Seperti yang sudah aku ceritakan pada unggahan berjudul 2019. Dengan modal percaya diri, aku mengikuti banyak lomba dan hanya empat karya lah yang berhasil membuatku tertawa. Sepertinya untuk hal ini belum pernah aku ceritakan kepada siapapun selain ada yang bertanya, hehehe. Kenapa? Karena sejujurnya untuk masalah ini aku tidak percaya diri, payahnya aku yang hanya memilih untuk menyembunyikan semua ini. Saat itu aku berpikir, "Untuk apa orang lain tau? Toh, mereka tidak akan merasa bahagia juga kok atas pencapaianku. Ah, tidak ada dampak apapun juga untuk mereka." Hahaha. Sempit sekali ya pikiranku saat itu.

Itulah aku, yang aku pikirkan hanya orang lain, orang lain, dan orang lain. Terkadang aku lupa dengan diriku sendiri.


    Padahal, tidak ada salahnya juga jika aku mencoba berbagi kebahagiaan dengan orang lain kan? Aku bahagia karena telah menerbitkan sebuah karya dan aku bahagia dapat berbagi cerita atas pencapaianku. Bukan, bukan berarti sombong. Karena pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang butuh sebuah pengakuan. Namun, saat itu aku belum mengakui bahwa diriku ini sukses membuat aku bahagia. Maka dari itu, aku tidak berani berbagi cerita kepada teman-teman.

Bahasa aku terlalu sulit untuk dicerna tidak sih? Haha. Aku bingung harus menyusunya seperti apa. Namun, intinya begitulah. Sekarang aku mau berbagi kebahagiaan atas pengalamanku di tahun lalu.


    Buku pertama yang sampai di tanganku, yaitu berjudul Melepas Senja, sebuah puisi yang aku tulis tentang cinta. Lalu di buku kedua yang berjudul Puisi-Puisi Tersayang untuk Eyang, yaitu sebuah isi hati yang aku tuliskan untuk Almarhum Eyang Habibie. Selajutnya, di buku ketiga yang berjudul Peran Jurnalis Industri 4.0, sebuah tulisan yang aku persembahkan untuk para Jurnalis yang jujur. Ketiga tulisan tersebut berupa karya puisi, tetapi hanya satu buku yang aku tulis dengan narasi. Ya, buku itu berjudul Kutemukan Bahagia Setelah Hari Itu. Hhhhh- tidak usah ditanya lagi, aku membuat tulisan itu tentang cinta.

    Oke.
    Intinya, aku percaya bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini.
    Awalnya aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menerbitkan sebuah karya walaupun memang sebenarnya aku ingin sekali, tetapi ternyata Alloh mendengar doaku. Kalau aku mau bilang nih, sebenarnya impian menerbitkan buku itu sudah keinginanku sejak duduk di bangku sekolah dasar, tetapi Allah mengabulkannya saat aku sedang menjadi mahasiswa semester 5, hehehe. Jadi, apakah masih ingin menyerah untuk mewujudkan keinginan kita? Inget loh, ada malaikat yang mengaminkan doa kita dan Allah yang selalu membantu kita. <3

Selamat berjuang!

Comments