ANALISIS PUISI SAJAK PUTIH KARYA CHAIRIL ANWAR DENGAN PENDEKATAN STILISTIKA
TUGAS MATA KULIAH KAJIAN PUISI
ANALISIS PUISI “SAJAK PUTIH”
KARYA CHAIRIL ANWAR DENGAN PENDEKATAN STILISTIKA
Disusun oleh:
Firda Mawaddah
2 PB2
Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA
2018
DAFTAR ISI
Sampul
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
BAB II Pembahasan
2.1 Kajian Teori
2.2 Langkah-langkah Analisis Puisi dengan Pendekatan Stilistika
2.3 Hasil dan Pembahasan
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia yang diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Salah satu bentuk karya sastra yaitu puisi. Puisi adalah jenis karya sastra yang menggunakan bahasa yang khas, bukan bahasa umum atau biasa (Noor, 2011: 21). Puisi adalah seni tertulis di mana Bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya (Agni, 2008: 7). Menurut pendapat para ahli yang telah dipaparkan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa puisi adalah sebuah karya sastra tertulis yang memiliki keindahan makna tersendiri.
Dalam mengkaji puisi diperlukan unsur pembangun puisi yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik terdiri atas tema, amanat, nada, perasaan, akulirik, alusi, gaya bahasa, tipografi, enjambemen, citraan, dan rima. Gaya bahasa adalah cara tertentu, dengan tujuan tertentu. Meskipun demikian, gaya tidak bebas sama sekali. Gaya lahir bersistem, sebagai tata sastra. Memang benar ada kebebasan penyair, tetapi gaya tetap berada dalam aturan, sebagai puitika sastra (Ratna, 2009: 386). Gaya bahasa merupakan salah satu unsur yang menghasilkan nilai estetik karya sastra. gaya bahasa bukan semata-mata meneliti karya sastra dari aspek kegayabahasaannya atau penelitian gaya bahasa itu bersifat umum. Diantara yang dimaksud itu ialah Diksi dan Gaya Bahasa.
Diksi adalah pilihan kata yang merupakan pergumulan penyair antara kecakapan, kecermatan, ciri khas yang dapat dilihat pada puisi yang diciptakan. Pemilihan kata dan pemanfaatan kata merupakan aspek utama dalam puisi (Wisang, 2014: 20). Penyair harus memperhatikan diksi untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan-perasaan yang bergejolak dalam diri seorang penyair. Penyair Indonesia banyak menggunakan diksi yang sederhana dan mudah dimengerti, namun puisi yang dihasilkannya sangatlah indah.
Stilistika merupakan salah satu ilmu linguistik yang mengkaji aspek gaya, dalam sebuah karya sastra dengan menggunakan bahasa sebagai media telaahnya. Secara umum, stilistika mengkaji karya sastra berdasarkan media bahasa dengan kemampuan penyair dalam memanfaatkan bahasa dengan tidak mematuhi kaidah berbahasa agar tercapainya efek estetik di dalam karya sastra. Stilistika adalah ilmu yang berkaitan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih mengacu pada gaya bahasa. Dalam bidang bahasa dan sastra, stilistika berarti cara-cara penggunaan bahasa yang khas sehingga menimbulkan efek tertentu yang berkaitan dengan aspek-aspek keindahan (Ratna, 2009: 167).
Membaca puisi berarti berhubungan secara langsung dengan struktur bahasa. Puisi yang baik merupakan totalitas penyair yang dapat diimbangi dengan kemampuan pembacanya. Dalam hubungan inilah permasalahan ilmu gaya bahasa bukan semata-mata gaya bahasa. Sejajar dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam revolusi di bidang bahasa dan sastra. Dalam karya Chairil Anwar banyak terjadi perubahan total penggunaan bahasa dalam karya sastra dengan penataan ulang penggunaan bahasa lama yang banyak keterikatan dengan gaya bahasa baru yang lebih bersifat bebas. Kali ini penulis akan memberikan salah satu contoh puisi karya Chairil Anwar berjudul ”Sajak Putih” yang memiliki diksi yang menarik untuk diteliti.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana analisis kajian puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar dengan pendekatan stilistika?
1.3 Tujuan Penelitian
Dapat menganalisis puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar dengan pendekatan stilistika.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Kajian Teori
Stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Dengan demikian style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa (Sudjiman, 1993: 13). Secara etimologis, stylistic berhubungan dengan kata style yaitu gaya dan ics atau ika yaitu ilmu, kaji, telaah. Menurut Turner (dalam Pradopo, 1993: 264) Stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa yang merupakan bagian linguistik yang memusatkan pada variasi-variasi penggunaan bahasa tetapi tidak secara eksklusif memberikan perhatian khusus kepada penggunaan bahasa yang kompleks pada kesusastraan.
Stilistika atau gaya merupakan ciri khas pemakai bahasa dalam karya sastra yang mempunyai spesifikasi tersendiri dibanding dengn pemakaian bahasa dalam jaringan komunikasi yang lain. Gaya tersebut dapat berupa gaya pemakaian bahasa yang merupakan kecirikhasan masing-masing pengarang (Fananie, 2000: 25). Melalui gaya bahasa itu seorang penyair mengungkapkan idenya. Melalui ide dan pemikirannya, pengarang membentuk konsep gagasannya untuk menghasilkan karya sastra. Secara sederhana menurut Sudiman (dalam Nurhayati, 2008: 8) Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Konsep utamanya ialah penggunaan bahasa dan gaya bahasa, agar dapat mengetahui cara seorang pengarang mengungkapkan karyanya dengan dasar dan pemikirannya sendiri.
Menuru Nurhayati (2008: 30) Unsur utama pembentuk puisi selain bahasa adalah sebagai berikut:
1. Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi biasa disebut metode puisi adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Diksi
Pemilihan kata sangat erat kaitannya dengan hakikat puisi yang penuh pemadatan. Oleh karena itu, penyair harus pandai memilih kata-kata agar komposisi bunyi rima dan iramanya memiliki kedudukan yang sesuai dan indah.
b. Citraan
Merupakan penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, pikiran dan setiap pengalaman indera atau pengalaman indera yang istimewa.
c. Kata-kata konkret
Merupakan kata yang dapat melukiskan dan membayangkan dengan tepat apa yang akan disampaikan oleh penyair.
d. Bahasa figurative
Bahasa yang digunakan untuk memperoleh kepuitisan, penyair menggunakan bahasa figuratif, yaitu bahasa kiasan atau majas.
e. Rima dan ritma
Merupakan pengulangan bunyi dalam puisi, dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu bila dibaca.
2. Strukur Batin Puisi
Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Tema/makna
Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
b. Perasaan
Yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair.
c. Nada
Yaitu sikap penyair terhadap pembacaannya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dan lain sebagainya.
d. Amanat/tujuan
Sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
2.2.Langkah-langkah Analisis Puisi dengan Pendekatan Stilistika
Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang digunakan untuk memaparkan (mendeskripsi) informasi tertentu, suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya. Pada penelitian deskriptif tidak diadakan perlakuan terhadap variabel-variabel yang akan dideskripsikan dan tidak menggunakan angka-angka. Berikut ini langkah-langkah menganalisi puisi dengan pendekatan stilistika :
1. Membaca bahasa karya sastra.
2. Melakukan pengkajian stilistika.
3. Menghubungkan gaya bahasa (diksi) sebagai objek stilistika dengan penyairnya.
4. Menganalisis makna dari diksi yang digunakan penyair dalam karyanya.
2.3.Hasil dan Pembahasan
Analisis stilistika dimaksudkan untuk menerangkan hubungan bahasa suatu karya sastra dengan fungsi seni dan maknanya. Dengan demikian, analisis stilistika berarti mencari gaya bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan ide pada puisi dengan mengedepankan fungsi keindahan dalam penggunaan bentuk kebahasaan. Terdapat dua unsur dalam menganalisis puisi, yaitu pada kajian stilistika dan struktur batin puisi. Kajian stilistika membahas linguistik, diksi, citraan, kata-kata konkret dan bahasa figuratif. Dalam hal ini penulis menganalisis puisi dengan kajian stilistika dalam pembahasan diksi. Sedangkan struktur batin membahas tema, perasaan, nada, dan amanat (Nurhayati, 2008: 46).
SAJAK PUTIH
Karya : Chairil Anwar
1. Bersandar pada tari warna pelangi
2. Kau depanku bertudung sutra senja
3. Di hitam matamu kembang mawar dan melati
4. Harum rambutmu mengalun bergelut senda
5. Sepi menyanyi, malam dan mendoa tiba
6. Meriak muka air kolam jiwa
7. Dan dalam dadaku memerdu lagu
8. Menarik menari seluruh aku
9. Hidup dari hidupku, pintu terbuka
10. Selam matamu bagiku menengadah
11. Selama kau darah mengalir dari luka
12. Antara kita mati datang tidak membelah
Kata-kata dalam puisi “Sajak Putih” memiliki makna kiasan yang harus dipahami dengan seksama. Sajak putih berarti suara hati si aku yang mengedepankan kejujuran dan ketulusan.
Pada bait pertama
1. /warna pelangi/ menggambarkan suasana hati seseorang yang sedang bahagia;
2. /bertudung sutra senja/ mendeskripsikan suasana saat itu pada sore hari;
3. /di hitam matamu kembang mawar dan melati/ maksud larik tersebut ialah bola matanya yang indah untuk dilihat;
4. /harum rambutmu mengalun bergelut senda/ maksudnya seorang gadis yang selalu terbayang-bayang oleh si aku.
Bait kedua
1. /sepi menyanyi / maksudnya si aku dalam puisi memohon do’a kepada Tuhan;
2. /meriak muka air kolam jiwa/ maksudnya suasana hati yang sedang bersedih
3. /dan dalam dadaku memerdu lagu/ larik tersebut menggambarkan bahwa ia memendam isi hati sembari berbisik pada hatinya sendiri;
4. /menari seluruh aku/ menggambarkan suasana hati sedang gembira.
Bait ketiga
1. /hidup dari hidupku, pintu terbuka/ larik tersebut menggambarkan si aku dalam puisi merasa hidupnya bisa ia kendalikan dan masih ada banyak kemungkinan untuk dia menemukan jalan keluar;
2. /selama matamu bagiku menengadah/ larik tersebut menggambarkan bahwa seorang gadis masih mencintai si aku;
3. /selama kau darah mengalir dari luka/ menceritakan bahwa si aku merasa tenang karena masih ada harapan dari seorang gadis yang dicintainya;
4. /antara kita mati datang tidak membelah/ maksudnya suatu keadaan yang mengambarkan sampai maut menjemput pun keduanya masih mencintai dan tidak akan terpisahkan
Struktur batin puisi, antara lain :
· Tema
Puisi “Sajak Putih” memiliki tema percintaan. Puisi “Sajak Putih” menceritakan ada seorang perempuan yang sangat cantik dan memiliki cinta yang tulus kepada seorang pria, sehingga membuat pria itu tertarik kepadanya. Namun kedua insan itu belum berani menyatakan perasaannya, mereka saling diam dan memendam perasaan, tetapi pria tersebut percaya dan mempunyai harapan bahwa seorang perempuan itu mencintainya. Kedua insan itu saling berjanji bahwa mereka akan selalu bersama dan tidak akan terpisahkan sampai maut menjemput.
· Perasaan
Perasaan yang ditunjukkan dalam puisi “Sajak Putih” ialah rasa bahagia karena dua insan yang yang saling mencintai dengan ketulusannya yang saling belum bisa menyampaikan perasaannya, akhirnya mereka mulai memberanikan diri sehingga berjanji akan selalu mencintai dan setia sampai maut menjemput.
· Nada
Nada dalam puisi “Sajak Putih” ialah kebahagiaan. Kebahagiaannya ditunjukkan karena seorang pria mempunyai seorang perempuan yang tulus mencintainya.
· Amanat
Puisi “Sajak Putih” menyampaikan bahwa jika kita mencintai seseorang harus berani untuk menyatakan perasaan, menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita, dan berusahalah untuk selalu mencintai, dan selalu ada di sisinya hingga maut memisahkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hasil analisis diksi pada Puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar membuktikan bahwa ada dua insan yang saling mencitai namun tidak berani untuk saling menyampaikan perasaannya. Meskipun tidak saling mengutarakan perasaannya, namun hati mereka tetap berkomunikasi hingga mereka berjanji akan saling mencintai selamanya. Amanat dari puisi ini yang disampaikan oleh penyair, yaitu jika kita mencintai seseorang harus berani untuk menyatakan perasaan, menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita, dan berusahalah untuk selalu mencintai, dan selalu ada di sisinya hingga maut memisahkan.
3.2 Saran
Sebaiknya pembaca jangan puas terhadap makalah ini saja, melainkan pembaca juga harus menambah lagi wawasannya mengenai materi kajian stilistika dalam puisi “Sajak Putih” karya Chairil Anwar dengan mencari sumber atau informasi lebih luas dari sumber terpercaya. Sehingga wawasan pembaca mengenai materi ini menjadi semakin bertambah.
DAFTAR PUSTAKA
Agni, Binar. 2008. Puisi dan Bulu Kuduk. Jakarta: Percetakan Hi-Fest.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Noor, Acep Zamzam. 2011. Puisi dan Bulu Kuduk. Bandung: Penerbit Nuansa.
Nurhayati. 2008. Teori dan Aplikasi Stilistik. Palembang: Penerbit Unsri.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1993. Pengkajian Puisi Analisis Sastra Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. STILISTIKA: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sudjiman, Panuti.1993. Bungai Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.
Wisang, Imelda Olivia. 2014. Dari Apresiasi Menuju Kajian. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Comments
Post a Comment
Masukan dan saran kami tunggu :)